Abu Nawas (Pemabuk yang Mendapat Surga)

Pasang Iklan Anda disini Hubungi Brama News

Oleh : Maulana Sholehodin

Abu Nawas begitu melegenda melintasi sejarah, sosoknya penuh kontroversi dan misterius. Beberapa menggambarkan Abu Nawas sebagai pribadi jenaka, cerdik nan cerdas, ada juga yang bercerita bahwa ia pura-pura gila karena menolak tawaran jabatan Hakim Agung dalam Khalifah Harun Ar Rasyid. Bahkan sering membodohi sang Khalifah Harun Ar Rasyid yang dungu. Benarkah sehebat itu sampai membodohi khalifah terhebat dalam dinasti Abbasiyah?

Kekacauan cerita tentang hubungan Harun Ar Rasyid diawali oleh terbitnya roman alfu lailatin wa lailah (cerita seribu satu malam) sebuah kumpulan roman fiksi adopsi dari cerita-cerita rakyat pada masyarakat Pagan Persi India. Dalam beberapa bagiannya ditulis bagaimana Harun Ar Rasyid adalah khalifah dungu yang memiliki penasihat cerdik dan super cerdas bernama Abu Nawas.

Dari beberapa fakta sejarah sungguh beda masa, walau terdapat tahun yang sama. Khalifah Harun Ar Rasyid adalah salah satu khalifah besar yang pernah lahir dari dinasti Abbasiyah, terlahir dengan nama Harun bin Mahdi Alquraisy Alhasyimi menjadi khalifah pada masa 14 September 786 M hingga 24 Maret 803 M.

Pada jamannya dia mampu membangun kekhalifahan Islam di Baghdad sebagai kota metropolitan terhebat di dunia dan menjadi pusat peradaban dunia saat Eropa masih gelap gulita. Sampai disebut The Glory Age of Islam (masa keemasan Islam). Bukan saja taraf hidup rakyat yang makmur dan berkeadilan tapi juga tradisi keilmuan yang berkembang pesat. Pada periode ini Sultan bahkan mendirikan lembaga pusat keilmuan dan pendidikan bernama Bayt Al-Hikmah tempat dimana filsafat-filsafat Yunani diterjemahkan dalam bahasa Arab juga ilmu-ilmu lain. Masa ini berkembang pesat bagi seluruh disiplin ilmu. Dalam beberapa catatan Sultan kerap kali terlibat diskusi serius dengan para ilmuan tentang hal-hal yang urgent bagi perkembangan keilmuan.

Jadi sungguh diluar nalar bila sang Sultan yang Agung dipermainkan oleh seorang penyair yang kerap mabuk di kedai tepi jalanan Baghdad. Sementara Abu Nawas yang bernama asli Abu Ali Alhasan bin Hani Alhakami lahir di Ahvas Persia 756 M – 814 M seorang sastrawan dan pujangga pemabuk, suka wanita dan anak muda ganteng.

Beberapa menggambarkan dia seorang pezina tapi ini tidak terbukti. Sebab pada masa itu bila berzina pasti dirajam.  Kenyataannya Abu Nawas dipenjara atas tuduhan melecehkan kesultanan. Bagaimana mungkin dia dipenjara bila benar Abu Nawas seorang penasihat penting Sultan besar Harun Ar Rasyid. Dan sejak dipenjara itulah sajak-sajak yang ia tulis berubah dari sajak hedon penuh syahwat menjadi sajak beraroma spiritual. Dan situasi ini hampir sama dengan yang dialami banyak sastrawan.

Tetapi tidak bisa pungkiri dengan perilakunya yang liar dan urakan sungguh Abu Nawas adalah pujangga besar, dijamannya dia menjadi panutan pujangga seluruh kekhalifahan Baghdad saat itu. Abu Amr Assaybani mengatakan “Seandainya Abu Nawas tidak mengotori syair-syairnya dengan kotoran,  niscaya aku jadikan hujjah (dasar argumentatif) dalam kitab-kitabku”. Tulisan Abu Nawas memang luar biasa, dan banyak diantaranya di tulis saat Abu Nawas sedang mabuk berat, oleh karenanya kumpulan kitabnya disebut alkhumriyat (aroma khomer). Dengan segala gemerlap hedonisme Baghdad yang berada pada puncak kejayaan, ada yang husnudzon dia berakhir dengan husnul khotimah.

Ibnu Khalikan dalam Wafyatul-A’yan 2:102, beliau menceritakan dari Muhammad bin Nafi berkata bahwa Abu Nawas adalah sahabat Ibnu Khalikan tapi karena gaya hidup Abu Nawas yang penuh maksiat Ibnu Khalikan memilih berpisah dengan Abu Nawas. Setelah Abu Nawas meninggal, suatu malam Ibnu Khalikan bermimpi bertemu dengannya, dalam mimpi tersebut ia bertanya pada Abu Nawas, ‘Wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.’ Maka Ibnu Khalikan pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidur Abu Nawas dan menemukan secarik kertas yang bertuliskan :

. إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahanam.

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Tuhan tidak pernah menutup rahmat dan taubat hambaNya sampai detik akhir hayatnya, semoga kita berakhir indah seperti sang pujangga Abu Nawas.

 

Redaktur : Septaria Yusnaeni

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.