Eksekutif-Legislatif Wajib Faham Wahdatul Wujud

Pasang Iklan Anda disini Hubungi Brama News

Penulis : Maulana Sholehodin
Redaktur : Brama News

Dalam sistem budaya feodal kerajaan, Raja itu penguasa dengan panggilan Gusti dan rakyat disebut kawulo bahkan menyebut dirinya kawulo yang sekarang jadi “kulo”. Orang Madura memanggil dirinya dengan sebutan “abdina” dari bahasa Arab abdun yang artinya juga hamba. Orang Melayu rakyat kecil menyebut dirinya hamba sahaya disingkat sahaya yang sekarang menjadi “saya”.

Tugas rakyat yang disebut kawulo (hamba) harus mengabdi secara total pada penguasa yaitu Gusti Raja. Rakyat Kawulo alit harus melayani Gusti serta seluruh perangkat praja. Sedang sang gusti dengan segenap praja (aparatur kerajaan) harus dilayani oleh kawulo alit. Harus disembah secara materi dalam wujud persembahan upeti agar kawulo alit diperlakukan dengan baik. Bila tidak membawa persembahan atau sesembahan jangan harap dianggap sebagai rakyat.

Inilah yang dilawan Raden Abdul Jalil yang lebih dikenal dengan Syekh Siti Jenar. Beliau menentang konsep kawulo melayani Gusti, menginginkan kawulo dan Gusti menyatu dalam kedudukan sejajar (egaliter) dalam bahasa arab ‘wahdatul wujud’ yang kemudian diartikan ke Jawa menjadi ‘nyawijining kawulo marang gusti’. Wahdatul wujud menjadi bersatu dalam realitas hidup untuk saling melayani, tidak satu arah. Rakyat/kawulo melayani Gusti dan Gusti harus melayani kawulo alit.

Konsep ini cukup berbahaya bagi keberlanjutan kenyamanan Gusti Raja dan para praja. Maka gerakan ini harus segera dipotong dan dihabisi karena berdampak pada tatanan politik kerajaan. Maka terbunuhlah Syekh Siti Jenar dan ini mengulang sejarah Al-Hallaj.

Dalam konsep ini, maqom tertinggi adalah ma’rifat yang bisa dicapai ketika kita masuk pada realitas Nyawijining Kawulo Marang Gusti, sebuah maqom istimewa. Ma’rifat itu dari kata Arofa (tahu dan mengerti), orangnya disebut Arif isim fail bermakna orang yang tahu. Turunan dari kata arofa diantaranya adalah kata Ma’ruf.

Bila Hari ini masih ada eksekutif dan legislatif minta dilayani rakyat/kawulo dan tidak melayani rakyat maka dia termasuk orang yang tidak atif, tidak ma’ruf dan juga tidak ma’rifat. Artinya dia telah mengkhianati statusnya sebagai kholifatullah fil ardhi. Maka jadilah ma’rifat dengan cara melayani rakyat, ini konsep sosio-politik menurut Syekh Siti Jenar.

Secara normatif, sesembahan materi atau persembahan pada penguasa itu hari ini disebut suap dan gratifikasi yang di atur di UU 31/1999 dan UU 20/2001.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.