Rujak Bakso

Pasang Iklan Anda disini Hubungi Brama News

Penulis : M. Sholehodin
Redaktur : S. Yusnaeni

Masakan Indonesia sangat beragam, bahkan bisa dibilang paling beragam di dunia, penuh dengan rasa rempah yang kuat. Hal ini karena Indonesia terdiri dari sekitar 6.000 pulau berpenghuni kurang lebih 17.508 pulau dan lebih dari 300 etnis.

Beberapa daerah memiliki ciri khas masakan daerah yang didasarkan pada ketersediaan bahan alam dan budaya masing-masing. Dan konon di Indonesia tercatat memiliki sekitar 5.350 resep tradisional, itu yang tercatat dan beberapa diantaranya masakan pengaruh asing Cina, India maupun Arab. Sungguh orang Nusantara sangat terbuka dan toleran, ini dibuktikan dengan kebesaran hatinya menerima budaya asing hingga terjadi peleburan budaya serta banyak kata asing yang diserap menjadi bahasa Indonesia. Bahkan hampir semua model masakan asing diterima dengan lahap oleh lidah orang Indonesia.

Banyak masakan asing yang diterima oleh bangsa Indonesia kemudian dimodifikasi menjadi masakan Indonesia. Soto misalkan, kerap kita mendengar soto itu dari lamongan bahkan bagi lidahku soto Lamongan memang soto terhebat. Namun menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa soto berasal dari daerah Tamil India, yang penduduknya sebagian harus menyingkir akibat peperangan sekitar 2.200 tahun silam. Mereka lantas sampai ke Nusantara dan salah satunya membawa makanan berbahan kare. Salah satu jenis makanan itu bernama Sothi. Awalnya sothi hanya berisi sayuran karena penduduk India yang beragama Hindu tidak makan sapi. Kemudian rasanya dimodifikasi disesuaikan dengan lidah Nusantara, sehingga kini dikenal berbagai macam soto.

Keberagaman masakan Indonesia tergantung pada karakter budaya lokal dan ketersediaan rempah di daerah tersebut, ini yang kemudian membuat perbedaan makanan. Masakan Sumatera misalnya cenderung memiliki pengaruh Timur Tengah dan India, yang menampilkan kare daging dan sayuran seperti gulai, sementara masakan Jawa kebanyakan pribumi, dengan sedikit pengaruh Cina. Masakan di Indonesia Timur mirip dengan masakan Polinesia dan Melanesia. Unsur masakan Cina dapat dilihat dalam masakan Indonesia seperti mie, baso, pangsit, bebek dan lumpia yang sepenuhnya sudah termodifikasi.
Namun sebenarnya jenis masakan Cina yang umum ditemukan diberbagai belahan dunia, mayoritas merupakan masakan etnis Han. Pengaruh masakan etnis Han ini ada disetiap kuliner negara-negara Timur dan menyebar luas ke seluruh dunia.

Disetiap kebudayaan dan kerajaan-kerajaan besar pasti mewariskan budaya masakan mewah dan enak seperti Mesir, Cina, Turqi dan lnggris. Sebab mereka berlomba menciptakan makanan yang disajikan pada keluarga raja sehingga posisi tukang masak istana sangatlah elit.

Bagaimana dengan Jawa? Majapahit sebagai kerajaan besar mewarisi apa? Kok biasa-biasa saja. Ya biasa-biasa saja karena Majapahit kerajaan Hindu Jawa yang suka tirakat dan vegetarian, makanan yang ditinggalkan sejenis urap-urap dan rujak, baru pada saat Mataram meningkat menjadi gudeg dan lodeh.

Beberapa kali dalam keterbatasan pilihan aku coba bereksperimen menggabungkan citarasa Majapahit yang bernama rujak dengan karya monumental masakan Cina yang bernama bakso jadilah rujak bakso, sungguh rasanya luar biasa aneh dan nikmat, aroma rempah yang kuat pada rujak petis beradu dengan aroma kaldu sapi.

Fungsi makanan haruslah mengenyangkan atau memberi kenikmatan. Oleh karena itu filosofisnya adalah makanan harus memuaskan selera dan melengkapi rasa, betapapun sederhana bahan-bahannya. Parameternya sungguh sangat sederhana, bila orang lahap memakannya maka sempurnalah sebuah masakan itu.

Image : Brama News

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.